TO BE A HAPPY SINGLE
“Mbak
kapan nikah ?”
“Kenapa
sih kok belum nikah juga?” Pertanyaan-pertanyaan yang semisal itu telah aku
dengar
ratusan kali. Dengan segala variasi susunan katanya. Dan dari puluhan orang
yang
berbeda dalam. Susana berbeda, dan maksud yang berbeda dan ekspresi yang
berlainan
pula. Baik langsung, lewat e-mail ataupun chatting.
Tanggapannya,
tentu saja berbeda pula. Memang pertanyaan itu makin sering kudengar
ketika
usiaku diatas dualimaan dan dalam kenyataan bahwa anak-anak di sekitarku
yang
sebaya denganku telah menikah pula. Dan kuyakin, semakin kesininya akan
sering
kudengar pertanyaan itu. Tambah variasi mungkin malah ya…hehehe..kayak apa
aja…
Tidak di sekitar
rumah, di lingkungan ikhwah, atau pun di kantor. Dan reaksiku
tergantung
sekali siapa dan untuk apa pertanyaan itu dilontarkan. Kadang kesal,
kadang tertawa
atau kadang biasa aja. Tidak perlu dijawab, cukup beri dia pertanyaan
balik.
Dah..selesai. Khuznudhzon aja…pertanyaan itu sebagai tanda cintanya untuk
kita.
(Cieeee….pede aja lagi !)
Kenapa ya, aku
kok belum nikah? Hehehe..aku juga tidak tahu kenapa. Ketika kata itu
terlontar,
kadang kujawab, “iya..ya dhe’..kenapa ya Mbak belum nikah ? Tanya ke Allah
aja yukk…atau
kalau yang bertanya orang-orang kantor biasanya kujawab dengan
tertawa sambil
canda aja. “Lha..saya kan baik hati Bu orangnya…Kan nunggu barengan
sama Ibu…sama
anak Ibu” seperti biasa, sambil nyingir aja.
Kalau dengan
ikhwah, adik-adik misalnya yang bertanya, yah….balikin aja
pertanyaannya ke
mereka. Kenapa ya kok lum nikah ? Yah..ga tahu ya..bantuin dong
dhe’…
Tapi kalau yang
bertanya ummahat atau akhwat atau ikhwan yang sudah paham,
terkadang
ujungnya jadi kesal. Seringnya seperti itu. Apalagi ketika dia sudah mulai
memperlebar
pembicaraan dengan mengemukakan data yang menakutkan dan
menyalahkan
kita. Misalkan dengan menceramahi, “Iya benar jodoh di tangan
Allah..tapi
usaha kita Apa ? kalau tidak diambil-ambil akan tetap di tangan Allah.” Lha
memangnya aku
disuruh pakai mik nya masjid..berhalo-halo aku aku ingin nikah tha ?
Kan aneh..kalau
semua orang harus tahu apa yang kita ikhtiarkan selain doa.
Setelah itu
disambung dengan daftar ‘kekhawatiran’ usia melahirkan di usia segini tuh
resiko tinggi.
Terus akan berkaitan dengan usia produktif seseorang. Ntar anti sudah
pensiun masih
punya anak-anak kecil, terus biaya sekolahnya nanti bagaimana ? Lha
kok ya
kurangkerjaan amat..tidak ditakuti saja kita sudah takut, lha ini kok malah di
tambah-tambahin.
Kalau sudah
kesana ..biasanya aku seperti punya mainan. Mempertanyakan materi
keislaman yang
pernah diterimanya. Bagaimana pemahaman dia tentang jodoh, takdir
Allah,
tsiqobillah dia ke Allah dan juga tentang keadilan Allah. Palagi seperti dulu
yang
heboh di
‘ucapan’..orang yang mengaku pengamal sunah nomer satu bahkan yang
diluar dirinya
dihukumi sesat..kok masih seperti itu. Gimana pemahaman aqidahnya ?
Itu kan bukan
hanya sekedar materi tetapi sesuatu yang pada akhirnya harus
diaplikasikan
dalam setiap kehidupan kita. Sikap hidup kita.
Karena bawaanku
itu ndableg, cuek dan easy going..mungkin orang itu jadi gregetan
kali ya.
Tuduhan-tuduhan bahwa aku terlalu asyik dengan aktivitasku, dengan karirku
dan lain
sebagainya, dipikir dengan itu semua jadi tidak ingin menikah. Padahal aslinya
ya sama
aja..kadang bete juga.
Sebenarnya semua
pertanyaan yang mereka lontarkan, apapun jawaban yang kita
berikan jadi
serba salah. Karena sebenarnya yang mereka minta itu kartu undangan.
Tanggal ini lho
aku nikahnya. Belum juga usiaku tiga puluh, sudah sangat sering
pertanyaan itu
mampir ke telingaku. Lha bagaimana nanti ?
Apa ga habis
waktuku untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu ? Kan mendhing
dicuekin aja kan
? Walaupun terus terang aku jadi enggan untuk lebih dekat dengan
orang-orang yang
bermulut tajam juga usil. Bukan kenapa-kenapa, jaga hati dan
stamina
ruhiyahku aja sih…
Semoga Allah
menggolongkanku sebagai hambaNya yang bisa menjaga
khuznudhzonku
kepadaNya. Aku termasuk orang yang sangat percaya bahwa apapun
yang Allah
berikan padaku adalah sesuatu yang terbaik untukku. Memang mungkin
bukan yang
terbaik menurut ‘kacamata’ masyarakat umum, atau terbaik buat antum
yang sudah pada
nikah dini, atau bahkan ‘kacamata’ Ayah Ibuku sebagai orang yang
sangat aku
cintai. Tapi itulah yang terbaik yang di berikan Allah untukku.
Allah menunda
keinginanku untuk menggenapkan setengah dienku, karena kuyakin
Dia punya
rencana besar dibalik itu semua. Sangat bisa jadi dengan tarbiyahnya.. Allah
ingin menguatkan
sisi lemahku yang selama ini tidak aku sadari. Atau Allah ingin
menyiapkanku
supaya aku siap dengan kehidupan didepanku. Allah Maha Tahu apa
yang akan
terjadi dengan masa depaku, dan dengan kondisi seperti apa yang
dibutuhkan untuk
melewati itu semua.
Juga bisa jadi,
Allah menunda itu semua, supaya akhirnya aku bisa sekufu dengan
jodoh yang Allah
persiapkan untukku. Semua hanya Allah yang tahu. Yang harus
kulakukan hanya
memperbaiki kualitas diriku dari hari ke hari agar semakin baik
dimata Allah dan
senantiasa kuznudzhon kepadaNya.
Aku bukan terus
ingin agar akhwat-akhwat yang sepertiku (yang sampai sekarang
belum menikah)
untuk mengambil sikap yang sama denganku. Kita jelas berbeda. Tapi
mungkin kalau
aku boleh memberi masukan, terlalu sayang kalau waktu yang kita
punya habis
hanya untuk memikirkan omongan orang. Memikirkan persepsi orang.
Lha wong…orang
yang nakut-nakutin kita dan ngomong ga enak ke kita aja..sangat bisa
jadi dia sudah
lupa dengan apa yang diucapkannya ..kok kitanya malah terjerembab
dalam ketakutan
semua kita. Kekufuran, ketidaksabaran dan ketidaksyukuran.
Kawan..yang
kuyakin, tidaklah Allah meringankan kaki seseorang datang kepada kita,
kecuali kita
diharuskan mengambil hikmahnya. Pasti ada rencana besar dari Allah
untuk kita.
Kuyakin, semua untuk kebaikan dunia dan akhirat. Hanya saja, kita
seringnya kurang
bisa merasakanya.
Tidak ada yang
menimpa kita, kecuali yang terbaik untuk hidup kita. Apapun itu. Pun
masalah jodoh
tadi, yang sering membuat kita menjadi kufur dengan nikmat Allah.
Yakinkan dalam
diri kita, bahwa apapun yang terjadi atas diri kita, adalah yang terbaik.
Kalau kita
yakin, kita tidak pernah melakukan sesuatu yang Allah tidak ridho.Misalkan,
menolak pinangan
laki-laki sholih yang datang tanpa alasan yang syar’i. Yakinlah
bahwa apa yang
sedang kita alami bukanlah fitnah diri yang seperti yang dikatakan
oleh
Rosullullah.
Ketika ikhtiar
secara syar’i sudah di upayakan, juga doa tak henti dipanjatkan, tidak
perlu bersedih
ketika jodoh itu belum juga datang. Tidak ada dosa bagi yang belum
menikah,
berapapun usianya. Bukan aib bagi muslimah yang secara masyarakat umum
di katakan
terlambat nikah. Semua hanya menjalani takdir masing-masing diri saja.
Yakinkan dalam
setiap diri..bahwa Allah akan mempertemukan dengan seseorang yang
terbaik untuk
antum. Dalam keadaan yang terbaik. Dan pada waktu yang terbaik pula.
Harus ada
kesadaran dalam setiap diri bahwa keadaan setiap diri itu berlainan.
Karakter ujian
yang diberikan untuk setiap manusia adalah, Allah selalu menguji kita
semua pada titik
terlemah kita. Coba rasakan. Tahukah kenapa ? Tidak lain karena
Allah ingin
melihat kita menjadi hamba Allah terbaiknya. Ketika menghadapnya kelak,
sudah tidak ada
sisi lemah dalam diri kita.
Ada hamba yang
diuji dengan kefakiran, ada yang di uji dengan pernikahan, ada juga
yang di uji
dengan orang tuanya. Atau pun dengan jodohnya. Subhannallah..Allah lah
dzat yang Maha
Tahu di mana letak sisi lemah kita. Dan Dia lah yang Maha Tahu mana
yang harus di
kuatkan. Tetaplah jaga khuznudhzon kita kepada Allah.
Ketika kita
tidak sabar minta di segerakan terangkatnya beban dari pundak kita,
sementara proses
tarbiyah dari Allah tidak kita lewati dengan baik, yakinlah belum
tidak akan
bahagia saat itu. Allah mempunyai takaran yang tepat atas segala Sesuatu.
Kawan..jika diri
masih bergelut dengan ujian Allah, bersabarlah. Yakinlah Allah tidak
bermaksud selain
hanya ingin melihat kita menjadi hamba yang paling baik ketika
menghadapNya
kelak. Satu-satunya cara untuk menguatkan sisi lemah kita, hanya
dengan menguji
kita. Itu saja. Allah tidak pernah dzholim dengan hambaNya. Bahkan
rahmatNya melangit
luas untuk hamba-hambaNya yang patuh dan tunduk pada setiap
perintahNya dan
laranganNya. Dan semoga kita termasuk bagian dari hamba terbaik
itu. Amien…! Wallau’allam bishowab !
good... good
BalasHapusI'm singel n Very happy.
BalasHapushehehe
Betul betul betul...
BalasHapussipp2...
BalasHapussorry saya tidak singgel
BalasHapussinggel itu bebas, bisa sama siapa saja haha
BalasHapussingel itu pilihan
BalasHapusaq sudah putus hubungan dgn singgel...xixixixi
BalasHapussaya belum singgel
BalasHapusbesok kalau gak lupa..
BalasHapusho...ho...
kaya lagune opi andaresta
BalasHapusaku l ga single
BalasHapusutk sekrng cee ga single
BalasHapusEum, . . singl....??? apa ya,........ q doble z, . . . secara mie dua itu kn bs mengenyangkan, . . . dua......dua,....... SARIMIE ISI DUA,....HEheeeeeee
BalasHapus:v isinya campur" kaya es campur
BalasHapustapi nice kok :)