Sabtu, 04 Mei 2013

To Be a Singgle


TO BE A HAPPY SINGLE

 
Mbak kapan nikah ?”
“Kenapa sih kok belum nikah juga?” Pertanyaan-pertanyaan yang semisal itu telah aku
dengar ratusan kali. Dengan segala variasi susunan katanya. Dan dari puluhan orang
yang berbeda dalam. Susana berbeda, dan maksud yang berbeda dan ekspresi yang
berlainan pula. Baik langsung, lewat e-mail ataupun chatting.
Tanggapannya, tentu saja berbeda pula. Memang pertanyaan itu makin sering kudengar
ketika usiaku diatas dualimaan dan dalam kenyataan bahwa anak-anak di sekitarku
yang sebaya denganku telah menikah pula. Dan kuyakin, semakin kesininya akan
sering kudengar pertanyaan itu. Tambah variasi mungkin malah ya…hehehe..kayak apa
aja…
Tidak di sekitar rumah, di lingkungan ikhwah, atau pun di kantor. Dan reaksiku
tergantung sekali siapa dan untuk apa pertanyaan itu dilontarkan. Kadang kesal,
kadang tertawa atau kadang biasa aja. Tidak perlu dijawab, cukup beri dia pertanyaan
balik. Dah..selesai. Khuznudhzon aja…pertanyaan itu sebagai tanda cintanya untuk
kita. (Cieeee….pede aja lagi !)
Kenapa ya, aku kok belum nikah? Hehehe..aku juga tidak tahu kenapa. Ketika kata itu
terlontar, kadang kujawab, “iya..ya dhe’..kenapa ya Mbak belum nikah ? Tanya ke Allah
aja yukk…atau kalau yang bertanya orang-orang kantor biasanya kujawab dengan
tertawa sambil canda aja. “Lha..saya kan baik hati Bu orangnya…Kan nunggu barengan
sama Ibu…sama anak Ibu” seperti biasa, sambil nyingir aja.
Kalau dengan ikhwah, adik-adik misalnya yang bertanya, yah….balikin aja
pertanyaannya ke mereka. Kenapa ya kok lum nikah ? Yah..ga tahu ya..bantuin dong
dhe’…
Tapi kalau yang bertanya ummahat atau akhwat atau ikhwan yang sudah paham,
terkadang ujungnya jadi kesal. Seringnya seperti itu. Apalagi ketika dia sudah mulai
memperlebar pembicaraan dengan mengemukakan data yang menakutkan dan
menyalahkan kita. Misalkan dengan menceramahi, “Iya benar jodoh di tangan
Allah..tapi usaha kita Apa ? kalau tidak diambil-ambil akan tetap di tangan Allah.” Lha
memangnya aku disuruh pakai mik nya masjid..berhalo-halo aku aku ingin nikah tha ?
Kan aneh..kalau semua orang harus tahu apa yang kita ikhtiarkan selain doa.
Setelah itu disambung dengan daftar ‘kekhawatiran’ usia melahirkan di usia segini tuh
resiko tinggi. Terus akan berkaitan dengan usia produktif seseorang. Ntar anti sudah
pensiun masih punya anak-anak kecil, terus biaya sekolahnya nanti bagaimana ? Lha
kok ya kurangkerjaan amat..tidak ditakuti saja kita sudah takut, lha ini kok malah di
tambah-tambahin.
Kalau sudah kesana ..biasanya aku seperti punya mainan. Mempertanyakan materi
keislaman yang pernah diterimanya. Bagaimana pemahaman dia tentang jodoh, takdir
Allah, tsiqobillah dia ke Allah dan juga tentang keadilan Allah. Palagi seperti dulu yang
heboh di ‘ucapan’..orang yang mengaku pengamal sunah nomer satu bahkan yang
diluar dirinya dihukumi sesat..kok masih seperti itu. Gimana pemahaman aqidahnya ?
Itu kan bukan hanya sekedar materi tetapi sesuatu yang pada akhirnya harus
diaplikasikan dalam setiap kehidupan kita. Sikap hidup kita.
Karena bawaanku itu ndableg, cuek dan easy going..mungkin orang itu jadi gregetan
kali ya. Tuduhan-tuduhan bahwa aku terlalu asyik dengan aktivitasku, dengan karirku
dan lain sebagainya, dipikir dengan itu semua jadi tidak ingin menikah. Padahal aslinya
ya sama aja..kadang bete juga.
Sebenarnya semua pertanyaan yang mereka lontarkan, apapun jawaban yang kita
berikan jadi serba salah. Karena sebenarnya yang mereka minta itu kartu undangan.
Tanggal ini lho aku nikahnya. Belum juga usiaku tiga puluh, sudah sangat sering
pertanyaan itu mampir ke telingaku. Lha bagaimana nanti ?
Apa ga habis waktuku untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu ? Kan mendhing
dicuekin aja kan ? Walaupun terus terang aku jadi enggan untuk lebih dekat dengan
orang-orang yang bermulut tajam juga usil. Bukan kenapa-kenapa, jaga hati dan
stamina ruhiyahku aja sih…
Semoga Allah menggolongkanku sebagai hambaNya yang bisa menjaga
khuznudhzonku kepadaNya. Aku termasuk orang yang sangat percaya bahwa apapun
yang Allah berikan padaku adalah sesuatu yang terbaik untukku. Memang mungkin
bukan yang terbaik menurut ‘kacamata’ masyarakat umum, atau terbaik buat antum
yang sudah pada nikah dini, atau bahkan ‘kacamata’ Ayah Ibuku sebagai orang yang
sangat aku cintai. Tapi itulah yang terbaik yang di berikan Allah untukku.
Allah menunda keinginanku untuk menggenapkan setengah dienku, karena kuyakin
Dia punya rencana besar dibalik itu semua. Sangat bisa jadi dengan tarbiyahnya.. Allah
ingin menguatkan sisi lemahku yang selama ini tidak aku sadari. Atau Allah ingin
menyiapkanku supaya aku siap dengan kehidupan didepanku. Allah Maha Tahu apa
yang akan terjadi dengan masa depaku, dan dengan kondisi seperti apa yang
dibutuhkan untuk melewati itu semua.
Juga bisa jadi, Allah menunda itu semua, supaya akhirnya aku bisa sekufu dengan
jodoh yang Allah persiapkan untukku. Semua hanya Allah yang tahu. Yang harus
kulakukan hanya memperbaiki kualitas diriku dari hari ke hari agar semakin baik
dimata Allah dan senantiasa kuznudzhon kepadaNya.
Aku bukan terus ingin agar akhwat-akhwat yang sepertiku (yang sampai sekarang
belum menikah) untuk mengambil sikap yang sama denganku. Kita jelas berbeda. Tapi
mungkin kalau aku boleh memberi masukan, terlalu sayang kalau waktu yang kita
punya habis hanya untuk memikirkan omongan orang. Memikirkan persepsi orang.
Lha wong…orang yang nakut-nakutin kita dan ngomong ga enak ke kita aja..sangat bisa
jadi dia sudah lupa dengan apa yang diucapkannya ..kok kitanya malah terjerembab
dalam ketakutan semua kita. Kekufuran, ketidaksabaran dan ketidaksyukuran.
Kawan..yang kuyakin, tidaklah Allah meringankan kaki seseorang datang kepada kita,
kecuali kita diharuskan mengambil hikmahnya. Pasti ada rencana besar dari Allah
untuk kita. Kuyakin, semua untuk kebaikan dunia dan akhirat. Hanya saja, kita
seringnya kurang bisa merasakanya.
Tidak ada yang menimpa kita, kecuali yang terbaik untuk hidup kita. Apapun itu. Pun
masalah jodoh tadi, yang sering membuat kita menjadi kufur dengan nikmat Allah.
Yakinkan dalam diri kita, bahwa apapun yang terjadi atas diri kita, adalah yang terbaik.
Kalau kita yakin, kita tidak pernah melakukan sesuatu yang Allah tidak ridho.Misalkan,
menolak pinangan laki-laki sholih yang datang tanpa alasan yang syar’i. Yakinlah
bahwa apa yang sedang kita alami bukanlah fitnah diri yang seperti yang dikatakan
oleh Rosullullah.
Ketika ikhtiar secara syar’i sudah di upayakan, juga doa tak henti dipanjatkan, tidak
perlu bersedih ketika jodoh itu belum juga datang. Tidak ada dosa bagi yang belum
menikah, berapapun usianya. Bukan aib bagi muslimah yang secara masyarakat umum
di katakan terlambat nikah. Semua hanya menjalani takdir masing-masing diri saja.
Yakinkan dalam setiap diri..bahwa Allah akan mempertemukan dengan seseorang yang
terbaik untuk antum. Dalam keadaan yang terbaik. Dan pada waktu yang terbaik pula.
Harus ada kesadaran dalam setiap diri bahwa keadaan setiap diri itu berlainan.
Karakter ujian yang diberikan untuk setiap manusia adalah, Allah selalu menguji kita
semua pada titik terlemah kita. Coba rasakan. Tahukah kenapa ? Tidak lain karena
Allah ingin melihat kita menjadi hamba Allah terbaiknya. Ketika menghadapnya kelak,
sudah tidak ada sisi lemah dalam diri kita.
Ada hamba yang diuji dengan kefakiran, ada yang di uji dengan pernikahan, ada juga
yang di uji dengan orang tuanya. Atau pun dengan jodohnya. Subhannallah..Allah lah
dzat yang Maha Tahu di mana letak sisi lemah kita. Dan Dia lah yang Maha Tahu mana
yang harus di kuatkan. Tetaplah jaga khuznudhzon kita kepada Allah.
Ketika kita tidak sabar minta di segerakan terangkatnya beban dari pundak kita,
sementara proses tarbiyah dari Allah tidak kita lewati dengan baik, yakinlah belum
tidak akan bahagia saat itu. Allah mempunyai takaran yang tepat atas segala Sesuatu.
Kawan..jika diri masih bergelut dengan ujian Allah, bersabarlah. Yakinlah Allah tidak
bermaksud selain hanya ingin melihat kita menjadi hamba yang paling baik ketika
menghadapNya kelak. Satu-satunya cara untuk menguatkan sisi lemah kita, hanya
dengan menguji kita. Itu saja. Allah tidak pernah dzholim dengan hambaNya. Bahkan
rahmatNya melangit luas untuk hamba-hambaNya yang patuh dan tunduk pada setiap
perintahNya dan laranganNya. Dan semoga kita termasuk bagian dari hamba terbaik
itu. Amien…! Wallau’allam bishowab !

15 komentar: