Senin, 06 Mei 2013

Muslimah Manja


Sebenarnya serba salah juga sih ya menyikapinya. Perlu atau tidak disalahkan. Atau
siapa yang perlu disalahkan juga tidak jelas. Atau akunya yang bermasalah dengan
sudut pandangku ? Bisa jadi. Itu lho tentang model akhwat dan Ummahat ‘manja’.
Aku termasuk yang paling gregetan dengan tipe-tipe seperti itu. Manja dan tidak
mandiri. Kalau masalahnya karena memang tidak bisa atau karena masalah yang
benar-benar tidak bisa diubah..aku bisa maklum kok. Tetapi kalau faktornya malas
belajar dan kurang tekadnya..Hiiiiihh…gregetan aja bawaannya. Kalau anak kecil
pingin juga ngejitak deh !
Pernah Ikhwan teman sekantorku kecelakaan. Hampir dua bulan beliau tidak bisa
ngantor. Kendaraan yang beliau punya ‘hanya’ sepeda motor. Penghasilan utama
hanya dari gaji dan TC aja. Dan rumah di Luar kota. Tiga anaknya semua sekolah
didalam kota karena memang selama ini masalah transport tidak masalah, setiap
hari bareng abinya.
Selama tidak ngantor otomatis kan tidak mendapat TC..so, harus pandai-pandai
mengatur uang belanja. Beliau minta tolong padaku untuk antar jemput anakanaknya.
Jadilah dua bulan penuh aku bolak balik antar jemput anak-anak itu.
Secara ukhuwah, aku berterimakasih sekali diberi kesempatan ladang amal seperti
itu yang akhirnya memang mendekatkan hati-hati kami.
Tapi aku melihat ketidakefektifan di sini. Selama beliau tidak bisa mengendarai
sepeda motor, istrinya kemana-mana naik becak. Dan antar jemput anak-anak harus
di lakukan oleh akhwat lain kalau tidak berarti harus boros di ongkos jika naik
angkot. Padahal sepeda motor di rumah menganggur dan istri dalam kondisi sehat
wal afiat.
Yang membuat aku tidak mengerti, ketika aku minta ijin untuk mengajari ummahat
itu naik motor, beliau tidak mengijinkan, dengan alasan kasihan sama istrinya kalau
harus mengendarai sepeda sendiri. Takut kecelakaan dan lain sebagainya. Pusing
juga..afwan..aku bingung dengan jalan pikiran ikhwan.
Sama ketika aku minta ijin kepada seorang ikhwan untuk mengajari istrinya bawa
mobil. Beliau tidak mengijinkan. Memang semenjak beliau melanjutkan S2nya di
Surabaya ..aku jadi punya profesi sampingan… jadi sopir pribadi. Ayahnya yang
dalam kondisi sakit dan harus sering ke dokter..tidak bisa tidak harus diantar pakai
mobil kemana-mana.
Bukan ingin mengeluh. Tapi kadang timbul kasihan kalau kebetulan aku tidak bisa
membantunya, dan tidak ada yang bisa dimintai tolong lagi, akhirnya ke dokternya
tertunda. Beberapa kali sih..berkhayal, coba mbaknya bisa bawa mobil..kan lebih
meringankan..batinku.
Pernah juga, ketika aku iseng main ke rumah ummahat. Wuih..keadaannya
berantakan sekali. Cucian yang harus disetrika menggunung. Ketika tak tanya..mang
kenapa Mbak kok belum disetrika ? Ternyata..setrikanya rusak. Beliau
bilang..biasanya abinya yang suka mbenerin hal-hal seperti itu. Mau di bawa ke
tukang servis tidak sempat karena anak-anak tidak bisa ditinggal. Sedang abinya
sedang ada urusan dakwah(jaulah) selama seminggu. Ternyata ketika
kulihat…weleh…kabelnya lho hanya terlepas sebelah. Di buka, sambung, selotip.
Beres deh…
Ada lagi..yang lucu dan bikin terharu. Berhari-hari aku memergoki seorang ummahat
bolak-balik ke warung makan. Membeli nasi dan lauknya. Padahal menurut
perkiraanku penghasilannya ‘tidak mengijinkan’ untuk seperti itu. Ketika iseng tak
godain..ga masak tho Mbak..marung mulu nih ?
Beliau bilang..iya dhe’..habisnya kompor di rumah sudah tidak bisa menyala sih.
Nunggu Abinya aja deh buat mbenerinnya…Hah ? Kaget juga sih..hanya nyabutin
sumbu kompor aja tidak bisa ? Mau nunggu abinya ? Bukankah waktu itu Abinya
sedang jadi sukarelawan ke Aceh…sebulan lagi ! Akhirnya…dengan prihatin..kita-kita
juga yang akhirnya nyabutin sumbu kompor itu.
Menjadi Ummahat atau Akhwat yang manja memang bukan melanggar syari’at. Juga
buat para suami..memanjakan istri..tidak boleh ini tidak boleh itu juga bukan suatu
yang dilarang agama. Atau mungkin malah di anjurkan kali ya ? (mosok sih ? gini
nih pertanyaan akhwat yang belum pernah merasakan dimanja suami…hehehe..)
Buat kita-kita akhwat yang pengangguran..seneng-seneng aja sih menolong
kesulitan saudara. Itu kan ladang amal buat kita-kita. Indahnya ukhuwah memang
diantaranya seperti itu.
Hanya, kalau dari sudut pandangku…kemanjaan kita sering sekali menyulitkan kita
sendiri. Aku termasuk yang punya anggapan kita harus mandiri. OK lah ..mau
dibilang narsis ya ga papa deh.. Atau kalau memang terpaksanya suami kita tipe
baru merasa ‘jadi suami’ kalau kita repotin dan kita tergantung padanya..ya kalau
pas ada dia..kita bersikap manja aja..apa-apa minta tolong suami..seberapa repot
sih jadi istri yang manja ? (Hehehe..soalnya aku tipe yang suka memanfaatkan sifat
ga tegaan Ayah sama Masku sih..)
Ada masanya..kita harus mandiri. Apalagi tipe suami yang pegawai macam kita-kita.
Yang berpindah-pindah terus-terusan. Atau yang punya pasangan yang aktif di
dakwah. Sering beliau harus meninggalkan rumah untuk jaulah beberapa hari. Atau
seperti keadaan-keadaan yang tak pernah di duga seperti peristiwa tsunami aceh,
banyak ikhwan kita yang ke Aceh sebulan atau bahkan lebih.
Untuk akhwat yang masih punya banyak waktu luang, gunakan waktu untuk banyak
belajar. Belajar apa saja. Karena sangat bisa jadi, ilmu itu tidak langsung kita
terapkan tapi sangat dibutuhkan entah berpuluh tahun yang akan datang. Sangat
bisa jadi. Kalau ilmu itu sudah kita kuasai, pastilah akan lebih memudahkan kita. Lha
daripada waktu habis buat mikirin kapan nikah..kan mending belajar apa kira-kira
ilmu yang dibutuhkan setelah pernikahan tho ? hehehe..
Pernah membaca Ikhwanul Muslimin dalam masa tribulasi ? Ketika para Ikhwan di
penjara berkali-kali dan masa yang cukup lama, bertahun-tahun. Pernah sekedar
membayangkan tidak bagaimana cara ummahat dan akhwat itu bertahan tanpa
ikhwan –ikhwan mereka ? Mencukupi, menghidupi diri dan membesarkan anakanaknya
? kehilangan sumber maisyah, kehilangan orang yang selama ini siap
membantu ?
Bukan hendak menakut-nakuti..tapi bukankah kita sendiri sadar bahwa ujian dalam
dakwah adalah sunnatullah ? Mihnah dalam da’wah adalah cara paling efektif dari
Allah untuk memurnikan dakwah itu dari orang-orang yang benar-benar ikhlas
berjuang untuk kalimat Allah dengan yang hanya lil..yang lain. Karena orang yang
berjuang bukan karenna Allah..tentunya akan segera mundur ketika menemui ujianujian
dalam dakwahnya.
Pada saat seperti itu ..kadang aku berpikir, dimanakan posisiku ? Menjadi beban
yang semakin memberatkan beban jamaah dengan ketidakmandirian dan kemanjaan
kita ? Atau merupakan bagian dari beliau-beliau yang mampu memberi kontribusi
untuk meringankan beban dakwah ? Yang jelas…semoga Allah mengijikan kita
semua untuk menempati posisi yang mampu meringankan beban kita sendiri dan
beban jama’ah…amien. Wallahu’alam bishowab !

15 komentar: